Tampilkan postingan dengan label pelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelajaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2020

FONOLOGI BAHASA INDONESIA

Kali ini saya akan mengajak kalian untuk memahami kurang lebih sedikit dari mata kuliah fonologi yang berkaitan dengan kebahasaan. Sebagai contoh permasalahan yang terkait dengan data bahasa yaitu karena adanya pengaruh dari bahasa ibu yang sering digunakan dalan kehidupan sehari-hari, sehingga pengucapannya antara bahasa indonesia dengan bahasa ibu sedikit bergeser. Terutama pada konteks bahasa jawa yang sering terjadi permasalahan bahasa dengan bahasa indonesia. Tidak hanya dengan bahasa ibu, analisis kesalahan ditekankan pada proses belajar b2 (termasuk bahasa asing). Dengan demikian objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari b2 atau bahasa asing. Objek yang lebih khusus lagi adalah kesalahan bahasa siswa yang bersifat sistematis dan menyangkut analisis kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, dan tata makna. Bahasa yang digunakan itu berwujud kata, kalimat, dan makna yang mendukungnya. Kata dan kalimat berunsurkan bunyi-bunyi yang membedakan yang disebut fonem. Permasalahan ini sangat memerlukan ilmu bantu fonologi, karena fonologi itu menyelidiki bunyi-bunyi bahasa suatu bahasa mempunyai fungsi yang besar dalam hal menciptakan tanda-tanda/lambang-lambang yang menyatakan bunyi ujaran. Lambang-lambang bunyi ujaran itu disebut huruf, sedangkan aturan penulisan huruf itu disebut ejaan. Oleh karena itu, permasalahan yang ada baik itu karena b2 (bahasa indonesia dengan bahasa ibu) ataupun dengan bahasa asing dapat dikaji dengan ilmu fonologi. Contoh permasalahannya yaitu dalam bahasa indonesia kata “putih” itu artinya warna dasar yang serupa dengan warna kapas, namun biasanya orang Jawa mengucapkan kata putih ini dengan kalimat “puteh” walaupun pengucapannya beda namun artinya tetap sama. Kajian yang seperti ini memerlukan ilmu bantu fonologi karena fonologi itu ilmu yang mempelajari tentang  perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Dan fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Maka dari itu permasalahan yang berkaitan dengan kata bahasa indonesia memerlukan ilmu bantu fonologi.

2.      a. Gugus konsonan :

Konsonan-konsonan yang berada dalam satu gugus di dalam bahasa Indonesia sebagian besar berupa nasal dengan hambatan, paduan, atau paduan yang sealat.

Contoh:

m-p à Tampil, Sampan, Tampan, Tambal.

n-t  à Tinta, Cinta, Pinta.

Gugus konsonan diawali p àtaptu

Gugus konsonan diawali b àabdi

Gugus konsonan diawali t àsatwa

Gugus konsonan diawali d àadven

Kelompok Konsonan :

Bahasa Indonesia tidak mengenal kelompok konsonan, kata-kata asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia yang di dalamnya mengandung kelompok konsonan. Kelompok konsonan tersebut dipisahkan melalui suara bakti.Contoh: ‘e’ à putra : putera; sutera : sutra.

Ada juga yang tetap dipertahankan.

Plastik, Ambrol, Praktek.

§  Kelompok L : plastik, amblas, atlas.

§  Kelompok R : prasangka, ambruk, drama.

§  Kelompok W: dwiwarna,swakarya, kwalitas.

§  Kelompok T : stasiun, stand.

b. Gugus vokal ialah deretan dua vokal atau lebih yang masing-masing membentuk suku kata tersendiri, sedangkan diftong adalah deretan vokal yang bersama-sama yang membentuk satu puncak suku kata. Gugus vokal merupakan deretan vokal yang masing-masing mempunyai ciri silabis, sedangkan diftong adalah deretan vokal yang hanya salah satu saja yang memiliki ciri silabis, lainnya bersifat transilabis.

Contoh permasalahan diftong yaitu bunyi [aw] pada kata harimau merupakan diftong, grafem <au> pada suku kata –mau tidak dapat dipisahkan menjadi ma-u. sehingga nanti kalau dipisah akan beda makna atau artinya. Diftong berbeda dengan deretan vokal, karena dalam deretan vokal dua vokal dapat dipisahkan dalam dua suku kata yang berbeda, contohnya main → ma-in. Demikian pula halnya dengan deretan huruf vokal <ai> pada kata "sungai". Deretan huruf vokal itu melambangkan bunyi diftong /ay/ yang merupakan inti suku kata "-ngai". Sedangkan contoh permasalahan gugus yaitu: Bunyi [pr] pada kata "praktik" adalah gugus konsonan, tetapi [kt] pada kata yang sama itu bukanlah gugus konsonan. Pemisahan bunyi pada kata itu adalah prak·tik. Dengan contoh di atas jelaslah bawha tidak semua deretan konsonan itu selalu membentuk gugus konsonan. Dalam bahasa Indonesia cukup banyak kata yang memiliki dua konsonan yang berdampingan, namun belum tentu deretan itu merupakan gugus konsonan. Contoh lain dari deretan dua konsonan yang bukan gugus konsonan adalah "cipta", "aksi", dan "harga".

 

3.      Manfaat pembelajaran fonologi yaitu :

a)      Dapat mengetahui segala macam bentuk variasi bahasa ucapan sebuah kata, yang dimiliki oleh setiap bahasa. Indonesia yang memiliki banyak bahasa daerah menjadi daya tarik tersendiri dalam mempelajari fonologi.

Contohnya dalam kata “titik”. Pada bagian ‘…tik’ itu bisa diucapkan “Tit/ek” oleh orang Banjarnegara (ngapak), “Titik” oleh orang Jakarta. “Wedusà “ Wedos” orang Jawa, “Wedus” orang Jakarta, “W/edus” orang Batak.

b)      Dapat menjadi bahan kajian penelitian bahasa, karena banyak daerah pedalaman Indonesia yang bahasa aslinya itu mungkin belum dipelajari dan diketahui oleh orang luas. Contohnya meneliti tentang bahasa yang ada di Tanah Lamaholot, NTT.

c)      Menjadi salah satu kajian yang sosiologis, karena penguraian bahasa dilakukan melalui alat ucap manusia. Contohnya, saat kita mempelajari suatu bahasa daerah yang ada di Indonesia, tentulah secara tidak langsung kita akan mempelajari tentang keadaan sosiologis kelompok itu, karena kita akan mempelajari alat ucap manusia yang merupakan mahluk sosial.

d)     Dapat mengetahui perkembangan bahasa, karena fonologi bersifat dinamis yang memerlukan pengalaman terlebih dahulu. Contohnya, saat kita mempelajari fonologi, tentu kita akan melakukan pengamatan dengan basis mengambil kesimpulan dari hasil pengamatan. Itulah yang disebut dengan pengalaman. Secara tidak langsung, kita akan mengetahui perkembangan bahasa minimal melalui pengamatan dan pengalaman kita sendiri.

e)      Dapat menulis dengan baik, karena menulis berawal dari unsur bunyi. Kita dapat menulis jika sudah tahu bagaimana bunyinya melalui ucapan kita. Contohnya, saat kita sudah mengucapkan dan  mengerti “Tahu”, maka dengan mudah kita akan menulis “T-a-h-u”.

4.      Fonologi mempunyai dua cabang kajian:

Pertama, fonetik yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa. Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:

a)     fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Contoh bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir(bibir atas dan bibir bawah), sehingga tempat artikulasinya disebut bilabial.

b)     fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan intensitasnya.

c)      fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.

Kedua, fonemik yaitu  kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

5.      Permasalahan yang berkait dengan dua bentuk bersaing contohnya:

a)                   MENYOLOK atau MENCOLOK?

b)                  MENYUKSESKAN atau MENSUKSESKAN?

c)                   MENYUBSIDI atau MENSUBSIDI?

Untuk menjawabnya, kita perlu mengetahui kata dasar dari bentuk jadian tersebut. Caranya dengan melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemudian ingat kaidah dasar:

- Bentuk dasar yang berawalan k, p, t, s bila mendapat imbuhan me-akan luluh.

- Bentuk dasar seperti di atas tidak luluh bila berasal dari bahasa asing yang belum diadaptasikan atau belum diadopsi dan masih dianggap asing bagi bahasa Indonesia.

Maka dapat disimpulkan bahwa kata a) “colok” itu berasal dari bahasa Indonesia yang berarti juga menusuk, maka kata baku dari “colok” yaitu mencolok sedangkan tidak bakunya yaitu menyolok. b) kata “sukses” itu berasal dari bahasa inggris “succsess” sehingga kata “sukses” itu bentuknya mensukseskan  bukan menyukseskan. Begitu pula kata c) “subsidi” yang merupakan kata asing yang juga dipakaidalam bahasa Indonesia sehingga bentuk jadiannya pun “mensubsidi” bukan “menyubsidi”.

Dari pernyataan di atas mengenai fonologi, kita belajar bahwa bahasa tidak hanya sekedar untuk diucapkan atau didengarkan namun juga untuk dipelajari karena salah satu huruf saja dapat mengakibatkan kefatalan baik dari segi makna, arti maupun persepsi. okay, lain waktu kita akan belajar mengenai persepsi ya guys supaya kita tahu bahwa bahasa memang sangat penting, bahasa apapun itu karena bahasa merupakan alat untuk para manusia berkomunikasi satu dengan yang lainnya. 

Selasa, 17 Oktober 2017

Kaitan Sesajen di Bali dengan Pancasila



1.      PENDAHULUAN
Sila pertama dari Pancasila Dasar Negara NKRI adalah Ketahuan Yang Maha Esa. Kalimat pada sila pertama ini tidak lain menggunakan istilah dalam bahasa Sansekerta ataupun bahasa Pali. Kata ketuhanan yang beasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan ke- dan –an bermakna sifat-sifat tuhan. Dengan kata lain ketuhanan berarti sifat-sifat tuhan atau sifat-sifat yang berhubungan dengan tuhan. Ketahuan Yang Maha Esa bukanlah berarti Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan Yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya Ketahuan Yang Maha Esa, berarti  Sifat-sifat Luhur atau Mulia Tuhan yang mutlak harus ada. Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur atau mulia, bukan Tuhannya.
Manusia sebagai makhluk yang ada di dunia ini seperti halnya makhluk lain diciptakan oleh penciptaannya. Pencipta itu adalah Causa Prima yang mempunyai hubungan dengan yang diciptakannya. Manusia sebagai makhluk yang dicipta wajib menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Dalam konteks bernegara, maka dalam masyarakat yang berdasarkan Pancasila, dengan sendirinya dijamin kebebasan memeluk agama masing-masing. Sehubungan dengan agama itu perintah dari Tuhan dan merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan oleh manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, maka untuk menjamin kebebasan tersebut di dalam alam Pancasila seperti kita alami sekarang ini tidak ada pemaksaan beragama, atau orang memeluk agama dalam suasana yang bebas, yang mandiri. Oleh karena itu dalam masyarakat Pancasila dengan sendirinya agama dijamin berkembang dan tumbuh subur dan konsekuensinya diwajibkan adanya toleransi beragama.
Jika ditilik secara historis, memang pemahaman kekuatan yang ada di luar diri manusia dan di luar alam yang ada ini atau adanya sesuatu yang bersifat adikodrati (di atas / di luar yang kodrat) dan yang transeden (yang mengatasi segala sesuatu) sudah dipahami oleh bangsa Indonesia sejak dahulu. Sejak zaman nenek moyang sudah dikenal paham animisme, dinamisme, sampai paham politheisme. Kekuatan ini terus saja berkembang di dunia sampai masuknya agama-agama Hindu, Budha, Islam, Nasrani ke Indonesia, sehingga kesadaran akan monotheisme di masyarakat Indonesia semakin kuat. Oleh karena itu tepatlah jika rumusan sila pertama Pancasila adalah Ketahuan Yang Maha Esa
Keberadaan Tuhan tidaklah disebabkan oleh keberadaban daripada makhluk hidup dan siapapun, sedangkan sebaliknya keberadaan dari makhluk dan siapapun justru disebabkan oleh adanya kehendak Tuhan. Karena itu Tuhan adalah Prima Causa yaitu sebagai penyebab pertama dan utama atas timbulnya sebab-sebab yang lain. Dengan demikian Ketahuan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan diantara makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini adalah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selainNya adalah terbatas.
Dalam konteks ini, akan dibahas hubungan Pancasila dengan makna sesajen di Bali yan berhubungan dengan mitos-mitos keagamaan yang ada di sana. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu memulai hari dengan doa yang diiringi sesajen bunga untuk dipersembahkan kepada Dewa-Dewi Bali. Sesajen memiliki nilai yang sakral bagi warga Bali. Mereka percaya dengan mempersembahkan sesajen, mereka akan mendapatkan keberuntungan, sekaligus menolak kesialan. Selain untuk mendapatkan keberuntungan, pemberian sesajen juga merupakan cara warga Bali untuk bersyukur kepada para Dewa yang telah memberikan kesejahteraan bagi kehidupan mereka. Tradisi ini sudah dilakukan sejak lama, bisa dikatakan sudah berasal dari nenek moyang kita yang memiliki pemikiran religius. Ada simbol atau siloka di dalam pemberian sesajen, yaitu sesajen sederhana dipersembahkan setiap hari. Sedangkan, sesajen istimewa dipersiapkan untuk acara-acara keagamaan tertentu. Di pura-pura, sesajen untuk Dewa dan roh para leluhur diletakkan di altar yang tinggi, sedangkan sesajen untuk roh-roh jahat diletakkan di bagian dasar. Bentuk sesajen yang seringkali kita temui di Bali adalah bunga. Bunga bermakna filosofis, agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman merupakan kiasan dari berkah yang berlimpah dari para leluhur dan dapat mengalir kepada keturunan.



2.      PEMBAHASAN
Mayoritas masyarakat bali adalah beragama Hindu. Dalam kehidupan beragama, masyarakat bali yang beragama Hindu percaya adanya satu tuhan dalam bentuk Trimurti yang Esa yaitu Brahmana (yang menciptakan), Wisnu (yang melindung dan memelihara), dan siwa (yang merusak). Selain itu masyarakat bali juga percaya kepada berbagai Dewa yana lain yang kedudukannya yang lebih rendah dari Trimurti, seperti dewa Wahyu (dewa angin), dan Dewa Indra (dewa perang). Agama Hindu di Bali juga mempercayai adanya roh abadi (Otman), buah dari setiap perbuatan (Karmapala), kelahiran kembali dari jiwa (Punarbawa) dan kebebasan jiwa (moksa), semua ajaran-ajaran itu berada di kitab Wedha.
            Tempat untuk melakukan persembahyangan (ibadah) agama Hindu di Bali dinamakan Pura atau Sangeh. Tempat ibadah ini berupa sekelompok bangunan-bangunan suci yang sifatnya berbeda-beda. Ada yang bersifat umum seperti Pura desa dan ada yang sifatnya khusus yaitu Pura keluarga. Di bali terdapat beribu-ribu pura atau sangeh yang masing-masing pura tersebut mempunyai hari upacara (hari perayaan) tertentu sesuai denga perayaan leluhur mereka yang telah ditentukan oleh sistem tanggalanya sendiri-sendiri.
Tempat-tempat tertentu yang ada di Bali, terutama di pohon-pohon besar, Pura atau yang lain banyak terdapat sesajen-sesajen di bawahnya. Mengapa banyak sesaji di sana? Jadi, pada abad ke-8 di tahun Saka 858, seorang Maha Resi bernama Markandeya bersama dengan pengikutnya membuka sebuah daerah baru di Puakan yang sekarang ini disebut dengan Taro, Tegal Lalang daerah Gianyar, Bali. Dalam pembentukan daerah baru tersebut sang Maha Resi mengajarkan untuk membuat upakara atau sesajen yang digunakan untuk sarana upacara, awalnya hanya terbatas pada para pengikutnya saja namun lama kelamaan menyebar ke penduduk lain di sekitar desa Taro. 
Penduduk desa Taro yang melakukan upacara pemujaan menggunakan sesajen dengan bahan baku daun, bunga, air, dan api disebut orang-orang Bali. Karena kebiasaan yang dibawa oleh Maha Resi tersebut berkembang hingga ke seluruh pulau, maka daerah tersebut dinamakan Bali. Secara jelasnya Bali adalah sebuah pulau yang dihuni oleh orang-orang yang melakukan pemujaan dengan menggunakan sarana sesajen. Sesajen diletakkan di dekat kolam ikan, bukti tradisi masih berlangsung hingga sekarang. Kebiasaan meletakkan sesajen ini ternyata tidak hanya berhenti pada abad ke-8 saja. Tradisi upacara menggunakan sesajen tersebut juga diteruskan oleh Maha Resi lainnya, seperti halnya Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. Sebagai alat bantu yang sangat sakral, sesajen tersebut memiliki banyak fungsi. Contohnya sebagai persembahan atau tanda terima kasih, alat konsentrasi terhadap Hyang Widhi, simbol manifestasi Yang Maha Kuasa, serta sebagai alat pensucian dan juga pengganti mantra. Karena begitu sakral dan pentingnya fungsi serta makna sesajen, tidak heran hingga detik ini masih menemui tradisi tersebut saat berkunjung ke Bali.
Makanan yang biasanya dijadikan sesajen adalah makanan yang telah dimasak atau makanan yang akan dihidangkan untuk keluarga di rumah. Warga Bali percaya bahwa di setiap tempat ada roh yang menunggu, jadi sesajen bisa diletakkan di mana aja. Seringkali, sesajen diletakkan di jalan, trotoar, atau persimpangan jalan. Tujuan utamanya tentu aja supaya mereka dihindarkan dari berbagai gangguan di jalan. Dan tak jarang sesajen juga diletakkan di kendaraan bermotor supaya memberi keselamatan saat berkendara. Di tempat yang dijadikan sebagai ladang mencari nafkah juga sering diletakkan sesajen. Misalnya di toko, dengan tujuan agar roh atau Dewa melindungi toko tersebut dari gangguan dan mendatangkan banyak rezeki untuk toko tersebut. Sedangkan, sesajen yang ditaruh di depan rumah sebagai penghormatan kepada roh penunggu rumah agar rumah terhindar dari bencana.
Sesajen bunga ini merupakan tradisi dari agama Budha dan Hindu, yang bertujuan untuk memuja dewa, roh, serta penunggu tempat seperti batu, pohon besar, persimpangan jalan, dan kendaraan agar berkah, menolak bala dan supaya terkabul keinginannya. Lalu apa makna khususnya bila sesajen tersebut diletakkan di pura? Sesajen yang diletakkan di pura juga untuk kepentingan ibadah. Di pura, sesajen atau sering disebut dengan canang ini diletakkan di altar yang tinggi, untuk menghormati dewa dan arwah para leluhur. Sedangkan bila canang diletakkan di bawah dan biasanya berisi daging mentah, bertujuan untuk mengusir roh jahat.
Sesajen sederhana dipersembahkan setiap hari, sementara sesajen istimewa dipersiapkan untuk acara keagamaan tertentu. Ada mitos bahwa bila pengunjung menginjak atau menendang sesajen akan bernasib sial. Benar atau tidaknya tentang mitos ini, mengajarkan pada kita untuk selalu menghormati adat dan kepercayaan di tempat yang kita datangi. Bagaimana dengan makna kain kotak-kotak yang menjadi bagian dari adat dan kehidupan masyarakat Bali ini? Kain ini disebut sebagai Saput Poleng yang juga bisa ditemukan hampir di setiap sudut di Bali, terutama di pura, patung, bangunan, serta sebagai busana dalam acara khusus. Bagi masyarakat Bali, kain ini mempunyai fungsi khusus dan istimewa, yang menyiratkan makna filosofis. Makna filosofis Saput Poleng adalah sebagai refleksi dari kehidupan masyarakat baik dan buruk, yang dalam agama Hindu disebut Rwa Bhineda. Dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, atas-bawah, baik-buruk, dan suka-duka.
Buat yang baru pertama kali berangkat ke Bali, biasanya teman-teman suka mengingatkan agar kamu nggak menginjak atau menyenggol sesajen. Katanya, hal itu bisa menyebabkan kita mengalami celaka atau kejadian yang nggak enak. Padahal, nggak menginjak atau menyenggol sesajen adalah bentuk penghormatan kita terhadap tradisi atau kepercayaan warga Bali, bukan supaya kita nggak kena celaka. Jika kamu melihat ada sesajen di pantai atau tempat tertentu, memang sebaiknya nggak menginjak sesajen tersebut. Tapi, kalau terpaksa dan nggak bisa menghindar, apa boleh buat. Misalnya saat lagi naik motor atau mobil dan nggak sengaja melindas sesajen atau ketika lagi melewati jalan sempit dan mau nggak mau harus menyenggol sesajen yang terletak di tengah jalan. Tapi, kadang ada juga turis nakal yang malah sengaja menginjak atau menyenggol sesajen di Bali. Mungkin itulah yang membuat orang-orang gerah dan berusaha mengingatkan ke semua pengunjung agar nggak lagi menginjak sesajen. Salah satu caranya adalah dengan menakut-nakuti soal kesialan yang bisa ditimbulkan akibat menginjak sesajen. Padahal, kalau menurut orang Bali asli sendiri sih, nggak bakal ada masalah yang ditimbulkan jika kita menginjak atau menyenggol sesajen.



3.      SIMPULAN DAN SARAN
Keberadaan Tuhan tidaklah disebabkan oleh keberadaban daripada makhluk hidup dan siapapun, sedangkan sebaliknya keberadaan dari makhluk dan siapapun justru disebabkan oleh adanya kehendak Tuhan. Karena itu Tuhan adalah Prima Causa yaitu sebagai penyebab pertama dan utama atas timbulnya sebab-sebab yang lain. Dengan demikian Ketahuan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan diantara makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini adalah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selainNya adalah terbatas. Dalam konteks ini, akan dibahas hubungan Pancasila dengan makna sesajen di Bali yan berhubungan dengan mitos-mitos keagamaan yang ada di sana. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu memulai hari dengan doa yang diiringi sesajen bunga untuk dipersembahkan kepada Dewa-Dewi Bali. Sesajen memiliki nilai yang sakral bagi warga Bali. Mereka percaya dengan mempersembahkan sesajen, mereka akan mendapatkan keberuntungan, sekaligus menolak kesialan. Selain untuk mendapatkan keberuntungan, pemberian sesajen juga merupakan cara warga Bali untuk bersyukur kepada para Dewa yang telah memberikan kesejahteraan bagi kehidupan mereka. Tradisi ini sudah dilakukan sejak lama, bisa dikatakan sudah berasal dari nenek moyang kita yang memiliki pemikiran religius. Ada simbol atau siloka di dalam pemberian sesajen, yaitu sesajen sederhana dipersembahkan setiap hari. Sedangkan, sesajen istimewa dipersiapkan untuk acara-acara keagamaan tertentu. Di pura-pura, sesajen untuk Dewa dan roh para leluhur diletakkan di altar yang tinggi, sedangkan sesajen untuk roh-roh jahat diletakkan di bagian dasar. Bentuk sesajen yang seringkali kita temui di Bali adalah bunga. Bunga bermakna filosofis, agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman merupakan kiasan dari berkah yang berlimpah dari para leluhur dan dapat mengalir kepada keturunan.
Buat yang baru pertama kali berangkat ke Bali, biasanya teman-teman suka mengingatkan agar kamu nggak menginjak atau menyenggol sesajen. Katanya, hal itu bisa menyebabkan kita mengalami celaka atau kejadian yang nggak enak. Padahal, nggak menginjak atau menyenggol sesajen adalah bentuk penghormatan kita terhadap tradisi atau kepercayaan warga Bali, bukan supaya kita nggak kena celaka.


DAFTAR PUSTAKA

Sukayanti, Luh Rika. 2012. Masyarakat Kebudayaan Bali. Diambil dari: http://rikamultimedia2.blogspot.co.id/2012/05/makalah-kebudayaan-masyarakat-bali.html


Breaktime. 2015. Kenapa di Bali Bertebaran Sesajen? Ini Kisahnya!. Diambil dari: http://breaktime.co.id/travel/the-story/kenapa-di-bali-bertebaran-sesajen-ini-kisahnya.html/more


Tracy, Mariska. 2016. Menginjak Sesaji di Bali Bisa Celaka?. Diambil dari: https://www.pegipegi.com/travel/menginjak-sesajen-di-bali-bisa-celaka/


Sindonews. 2017. Makna Sarung Kotak-Kotak dan Sesajen di Bali. Diambil dari:https://lifestyle.okezone.com/read/2017/07/18/406/1739461/makna-sarung-kotak-kotak-dan-sesajen-di-bali